• Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
  • default color
  • green color
  • red color

Yehu Wangsajaya

Sunday
Oct 26th
Home Dunia Rohani Keamanan Keselamatan Ketertiban dan Kelancaran Lalu Lintas
Keamanan Keselamatan Ketertiban dan Kelancaran Lalu Lintas PDF Print E-mail
Written by yehu   
Monday, 01 December 2008 11:18
Orang Indonesia Sakti-Sakti ditembak kepalanya tidak mati....

e......ditembak dengkulnya malah mati
dalam lomba balap motor mengapa tidak pernah juara dunia
karena kalau ngebut takut dengkulnya terluka

 Ungkapan seperti di atas merupakan anekdot bahwa kita tidak berfikir dengan otak tetapi dengan dengkul. Sering kita melihat para pengendara sepeda motor yang idak memakai helm atau helmnya dipasang di dengkul. Mengendarai sepeda motor tanpa helm biasa, ini kan bukan jalan protokol.Membawa helm tetapi hanya digantung,atau di taruh di dengkul, seolah dengan membawa helm berarti sudah memenuhi syarat aman berkendara.Ada juga yang membawa anak kecil namun yang menggunakan helm hanya yang dewasa. Ketika ditanya polisi tanpa merasa bersalah mengatakan pak saya hanya ke situ, sambil menunjuk arah dengan mulutnya sedikit monyong untuk meyakinkan petugas yang bertanya. Bahkan ada yang ngomel: "polisi ini cari-cari saja senangnya, masak anak ecil harus pakai helm segala". Polisi itupun tak kalah berangnya dengan nada tinggi mengaakan: "Anakmu wis metu ndase durung? Nek wis ono ndase yo di helemi. Opo ndase anakmu luwih atos tinimbang aspal".(anakmu sudah keluar kepalanya belum?, kalau sudah ya pakai helm.apa kepala anakmu lebih keras dari aspal?). Pengemudi itu hanya pringas-pringis dan mengatakan:"maaf pak, nyuwun ngapunten".

Niat baik orang tua menghibur anaknya keliling dengan sepeda motor kadang dapat berakibat fatal karena ketidaktahuan atau kelalian orang tua. Tanpa sadar dari keluarga telah memberikan edukasi yang keliru Betapa seringnya kalau kita amati di lingkungan sekolah Dasar atau SMP banyak orang tua yang mengantar atau menjemput anaknya dengan sembarangandan mengabaikan faktor keselamatan.Di lingkungan pendidikanpun masalah keselamatan berlalulinas ini sering diabaikan bahkan dianggap hal yang tidak penting atau biasa-biasa saja.

Masyarakat atau pegguna jalan tertib atau mematuhi aturan kalau ada polisi. Mereka takut ditilang atau ditindak oleh polisi mungkin juga takut dimintai uang denda damai. Ketika ada angkutan umum yang melanggar rambu dan didatangi polisi tanpa merasa bersalah mengluarkan uang tiga ribu, ketika polisi bertanya saudara tau pelanggaranya? Pengemudi angkutan umum tersebut mengeluarkan STNK. "Mana SIMnya?" tanya polisi. Pengemudi itu terus berkelit dan tetap tidak mau menunjukan SIMnya. Memang para pengemudi takut kalau SIM yang dijadikan barang bukti atas pelanggaranya. Kalau yang disita Polisi SIM, bukan tanggungjawab perusahaan tetapi tanggungjawab pribadi si pengemudi.

Ketidakprofesionalan aparat dan petugas yang bisa dibeli atau dibayar maka ia akan dilecehkan atau tak ada harga diri di mata masyarakat. Bahkan kalau ada oknum aparat yang menggunakan kesempatan untuk mengais keuntungan dari berbagai tindakan pelanggaran yang membahayakan keselamatan, maka sosial cost yang harus dibayar sangat mahal yaitu ketidakpercayaan masyarakat.

Masalah kamseltibcarlantas memang kompleks dan bukan hanya tanggung jawab satu institusi saja. Para aparat dan stakeholder lainya yang berkaitan dengan lalu lintas sering saling lempar dan saling tuding. Hujat menghujat serangmenyerang merupakan tindakan yang tidak dewasa bahkan memalukan, apalagi berebut kewenangan dan kekuasaan. Seorang pejabat di bidang keselamatan ternyata lebih senang dan lebih bangga kalau membahas masalah kewenangan dibanding masalah keselamatan. Misalnya masalah penegakan hukum yang seolah-olah hanya untuk kewenangan saja dan mengabaikan unsur keselamatan, edukasi maupun pencerahan.Masalah jalan yang tidak beres, masalah angkutan umum yang tidak nyaman, pemeriksaan kendaraan yang serampangan (maaf karena pengecekan, sebagian orang mengatakan status disamakan, yang dicek dengan yang tidak sama saja), sistem-sistem yang bekerja penuh dengan improvisasi, gradak-gruduk, gedandapan, dan tergagap-gagap. Hal tersebut menunjukan bahwa kita belum memikirkan secara sungguh-sungguh dan masih senang pada hal-hal yang sifatnya seremonial, selesai upacara selesai pula programnya. Laporan-laporan dan tampilan yang ditonjol-tonjolkan adalah para pejabatnya yaitu foto-foto yang boleh dibilang mejeng yang menunjukan bahwa model-model feodal masih subur tumbuh berkembang dalam birokrasi yang tentu bukan sebagai negara hukum(recht staat), tetapi negara kekuasaan(macht staat).

*******

Program-program yang dibuatpun sering lebih mementingkan kepentingan-kepentingan sesaat, yang tidak jelas ujung pangkalnya, atau sifatnya supervisial atau pura-pura yang sebatas seremonial dan menyenangkan pimpinan.Dari hasil penilaian dari Global Road Safety yang diprakarsai Unescap dengan WHO menilai Indonesia dalam penanganan masalah keselamatan jalan dianggap buruk bahkan dibawah Laos dan Nepal. Program Global Road Safety Week yang dilaksanakan pada bulan April boleh dikata masih sepotong-sepotong tanpa jelas siapa penjurunya dan program apa yang telah, sedang dan akan dilaksanakan.

Kita juga masih ingat jaman orde baru yang sering melaksanakan kirab nasional, upacara-upacara pencangan Gerakan Disiplin Nasional dengan membagi-bagi rompi, kaos dsb. Kegiatan tersebut sebatas tebar pesona-senyum sana sini, cipika cipiki, yang penting ada fotonya bahwa diwilayahnya disiplin sudah dicanangkan dan sudah diyakini ada. Seorang pengendara motor dengan rompi warna oranye bertuliskan "Saya Penegak Disiplin" dengan tenang melawan arus tanpa helm, dia meihat polisi yang didepannya tanpa merasa bersalah balik kanan dan terus saja ngeloyor. Inikah wujud kepribadian masyarakat kita, tanpa malu tanpa ragu, tanpa merasa bersalah melakukan pelanggaran yang memahayakan keselamatan baik bagi dirinya maupun orang lain.

Belum lagi jalan yang rusak, berlubang, bocor saluran air telah berbulan-bulan mungkin tahunan tanpa penah tersentuh perbaikan sama sekali. Itupun tanpa ada yang merasa bertanggungjawab, bahkan mungkin belum pernah ada yang demonstrasi atas burukya infrastruktur. Belum lagi rambu marka yang bagus dan jela hanya di jalan protokol atau jalan-jalan yang sering dilewati para pejabat, yang dilewati rakyat dibiarkan saja. Ada yang berkelakar jalanan kita ini kaya lautan bergelombang karena tambal sulam. Selesai digali satu proyek belum betul menutupnya, digali lagi proyek lain, menutupnya masih krakal-krakal kasar sudah digali proyek yang lainya seakan antara yang satu dengan yang lain bersaing untuk merusak jalan. Belum juga beres menutunya hujan turun, jalanan pasti jadi kaya sungai kering, krowok sana-krowok sini. Aneh memang inipun kalau ada yang terperosok atau ada yang menjadi korban, tidak ada yang bertanggungjawab, saling tuding, saling memaki, lempar sana-lempar sini sampai yang mau menuntut bosan akhirnya pasrah dan mempercayakan diri pada nasib.

*****

Kecelakaan lalu lintas terjadi di sana-sini, dengan enteng pejabat yang ditanya wartawan mengatakan human error,tanpa mau lagi melihat faktor lainya. Ini bukti kita tak cerdas memikirkan masalah keselamatan. Hanya saling menyalahkan, tak mau belajar dari kesalahan. Seorang wartawan bertanya tentang kecelakaan lalu lintas yang banyak memakan korban kepada salah satu instansi, tanpa ragu menjawab ini bukan kewenangan kami, kecelakaan ini kesalahan pengemudi jadi tanya polisi. Bisa dibayangkan betapa hebatnya tanpa penelitian atau penyelidikan yang serius, dari ruang kantornya sudah bisa mengambil kesimpulan dan dengan tenang ini bukan bagian saya.

Korban kecelakaan lalu lintas lebih besar dari korban perang, bahkan lebih besar dari korban flu burung, AIDS, Sars dan wabah penyakit lainya, tapi mengapa tidak dianggap menakutkan dan dianggap biasa-biasa saja. Mungkin juga kita terlalu pasrah dan semua ini takdir atau nasib, sudah garis tangan, Tuhan menghendaki demikian. Tuhanpun dalam masalah kecelakaan diikut-ikutkan. Kita harus ingat yang bisa dikerjakan manusia tidak dikerjakan oleh Tuhan. Setiap tahunya di Indonesia lebih dari sepuluh ribu jiwa mati sia-sia di jalan raya, belum yang cacat, yang luka-luka, kerugian materiil, kerugian ekonomi dsb.

Kemacetan lalu lintas menjadi pemandangan biasa di kota-kota besar. Dari kemacetan ini timbul berbagai masalah sosial lainya. Pedagang asongan yang sekarang ini sudah melebarkan sayapnya ke jalan tol, penjahat jalanan yang beraksinya tidak tanggung-tanggung di perempatan jalan di siang bolong. Korban tanpa berani melawan,tanpa berani berbuat banyak pasrah semau dan sekehendak para penjahat. Kepekaan sosial dan kepedulian sosial kita masih rendah,bahkan tidak peduli dengan urusan orang lain. Ah yang penting bukan saya.

Penanganan masalah lalu lintas oleh aparat juga masih konvensional, gatur lalin (penjagaan, pengaturan lalu lintas) aparat tumplek blek dijajar sepanjang jalan atau di tempat-tempat yang rawan kecelakaan dan kemacetan. Seorang doktor transportasi pernah mengkritik kerja polisi yang konyol,tetapi dia lupa tanpa infrastruktur yang memadai maka terpaksa polisi melakukan dengan cara-cara manual, konvensional dan konyol seperti yang dikatakanya. Di negara-negara maju tentu tidak banyak polisi berjajar di jalan-jalan atau dipersimpangan-persimpangan.Cukup dengan alat-alat yang modern dan canggih yang bisa dikontrol dan tentu dengan sistem mutakhir dan kesadaran masyarakatnya akan hukum sudah pada tingkat tinggi. Tidak perlu lagi ditakut-takuti atau diancam hukuman atau denda. Dengan infrastruktur yang memadai,dapat memaksa atau mendidik masyarakatnya untuk melakukan ketentuan-ketentuan yang sebagaimana seharusnya. Artinya tanpa infrastruktur yang memadai dan tanpa kesadaran yang tinggi dari masyarakat pengguna jalan, tanpa dukungan stake holder lainya, apalagi hanya dengan saling tuding, hujat menghujat dan megedepankan kekuasaan dan kewenangan maka akan sia-sia saja, dan tetap konvensional bahkan mungkin konyol, tentu masalah tidak terselesaikan dan costnya amat mahal.

Jujur kalau kita bertanya kepada diri sendiri atau kepada siapa saja yang sekarang ini sudah mampu mengendarai kendaraan, kapan belajar tentang lalu lintas? Jawabanya pasti saat akan mengurus SIM. Masalah lalu lintas yang begitu kompleks tidak dipelajari dengan sungguh-sungguh atau dipelajari sebatas untuk mendapatkan SIM. Itupun mungkintidak ujian. Pengertian SIM pun masih simpang siur. Belum ada kesepakatan atau kesamaan pandangan tentang SIM. SIM merupakan bukti bagi pemiliknya atau pemegangnya telah memiliki kemampuan maupun ketrampilan berkendara di alan raya. Mempunyai pengetahuan tentag undang-undang dan peraturan yang berkaitan dengan lalu lintas dan keselamatan di jalan. Serta pemilik SIM bertangung jawab terhadap keselamatan berkendara baik bagi dirinya maupun orang lain.

Pendidikan berlalu lintas yang diajarkan masyarakat dan lingkungan kita begitu kejam, melawan arus, berboncengan lebih dari dua, tanpa helm, menaikan menurunkan penumpang sembarangan, saat yang menggembirakan atau mendukung kegiatan olahraga naik di atas bis atau saat beramai-ramai dengan bangganya mengatur jalan sendiri semaunya, seolah olah kalau sudah bergerombol tak ada lagi aturan dan seakan ini hutan rimba milik tarzan. Ada pula yang mengiring jenazah bukan dengan hidmat tetapi dengan kebrutalan-kebrutalan dan bahkan merusak barang-barang orang lain termasuk infra struktur jalan. Kita sering lupa daratan bangga kalau melanggar, bangga kalau tidak tertib bangga kalau bikin orang lain susah.

*****

Sumber daya manusia (SDM) merupakan aset utama bangsa, sudahkah kita meyakininya? Yakin pasti, mengimplementasikan nanti dulu. Lalu lintas merupakan urat nadi kehidupan masyarakat khususnya perkotaan. Hampir seluruh aktifitas kehidupan masyarakat mengkait dengan lalu lintas. Permasalahan-permasalahan lalu lintas tidak sebatas menghambat tata kehidupan masyarakat tetapi bisa menghancurkan bahkan mematikan. Untuk itu dibutuhkan kamseltibcarlantas sehingga masyarakat dapat melaksanakan segala aktifitasnya dengan baik, lancar, aman, nyaman sehingga produk-produk yang dihasilkan dapat terus tumbuh dan berkembang. Tentu mewujudkanya tidak semudah mengucapkanya, namun setidaknya kita tahu dulu apa dan mengapa kamseltibcarlantas penting dan harus diwujudkan dan dipelihara.

*****

Suatu negara atau bangsa yang memiliki SDM yang handal maka ia dapat tumbuh dan berkembang dengan cepat dan tentu dapat menguasai atau menimbangi perkembangan jaman dan perubahan sosial yangbegitu cepat. Sedangkan yang tidak mempuyai SDM yang handal maka akan tertinggal, dan dikuasai atau dijajah baik secara politik, sosial, budaya maupun ekonomi. SDM yang handal cukupkah? Tentu tidak. Perlujuga adanya komitmen, integritas, kepekaan,kepedulian dan solidaritas sosial ang tinggi. Almarhum Romo Mangun Wijaya mengatakan:" Buat apa banyak orang cerdik pandai, Prpfesor, Doktor lulusan luar negeri sekalipun, kalau rakyatnya tetap dibiarkan bodoh mka cepat atau lambat orang-orang pandai itu akan mengeksploitasi dan membodohi rakyatnya yang bodoh-bodoh itu.

Pendidikan yang utama dan pertama untuk memanusiakan manusia. Romo mangun juga mengingatkan pada kita :"Pada pendidikanlah tergantung masa depa bangsa". Demikian halnya dengan keselamatan berlalu lintas ini juga harus dipahami melalui pendidkan atau setidaknya selalu ada kampanya tentang keselamatan. Filsuf Berkeley mengingatkan kita :" esse est persipi, sesuatu itu ada karena di mengerti". Bagaimana akan peka, akan peduli dan akan menindaklajuti kalau tidak mengerti. Ini yang menjadi pemikiran utama dan prioritas pertama dalam mewujudkan an memelihara kamseltibcarlantas. Karena tanpa adanya edukasi, tanpa ada pengertian maka sesuatu itu tidak ada. Kalau pengertianya hanya kewenangan, kekuasaan, pengeksploitasian maka tiada lagi untuk kerelaan berkorban, semua pelayanan bukan untuk kemanusiaan dan keselamatan tentu untuk uang, kesenangan bagi yang berwenang dan berkuasa. Tentu sasaranya rakyat yang terus menerus dibodoh-bodohi dan tentu akan tetap dibiarkan bodoh.

Safety first, keselamatan yang utama. Panadai, kaya, mempunyai jaatan tinggi, terhormat, terkenal kalau tidak selamat ya percuma. Seorang suhu atau guru Silat Garuda Jaya mengatakan : "orang yang jagoan bukan orang yang anti peluru, anti bacok, anti air keras, dsb tetapi orang yang selamat". Maka kalau kita dalam menata lalu lintas tanpa memikirkan keselamatan tentu juga akan sia-sia. Keselamatan adalah bagian dari kemanusiaan, yang berarti juga sadar dan peduli akan aset utama bangsa, penerus bangsa dan tentu citra dan nama baik bangsa.

Segala sesuatu yang dipaksakan tidak ada hasilnya, atau hasilnya semu. Demikian halnya dengan Kamseltibcarlantas memaksakan atau dibangun dengan paksaan tentu sifatnya hanya temporer dan sementara saja. Sebatas kepura-puraan, supervisial dan seremonial.mungkin juga karena ketakutan atau terpaksa.

Antony de Mello mengatakan yang penting adalah : "awareness". Kesadaran merupakan kunci utama. Dengan adanya kesadaran berarti bangun dari tidur dan tentu tidak mabok, tidak terjebak, tidak terpedaya, tidak pula karena ketakutan atau karena paksaan. Dengan kesadaran maka semua yang dilakukan tentu adanya ketulusan dan kebersamaan tidak ada lagi yang saling menyebut dirinya jagoan, tetapi kemitraan. Bermitra mencari akar masalah dan solusinya. Irjen pol Ating Natadikusuma Kapolda Metro Jaya yang pertama mengingatkan : " kewenagan dan kekuasaan harus dilandasi pengetahuan, kalau salah orang menggunakan maka akan menjadi kesewenag-wenagan dan tentu tidak dapat menolong orang yang lemah dan benar". Hati nuranilah yang harus menjadi penjuru bagi para aparat dan stakeholder di bidang lalu lintas sehingga kamseltibcarlantas bukan barang yang instant tetapi merupakan proses kerja sama, kemitraan yang harus terus ditumbuhkembangkan. Dimulai sejak usia dini, sebagai bagaian pendidikan sepanjang hayat (long life education)

ditulis oleh: Chryshnanda DL

 

Last Updated on Wednesday, 03 December 2008 07:29
 

Add comment


Security code
Refresh